Makalah Ayunan Sederhana
Oke, udah lama admin kagak update ni blog, udah kayak rumah yang nggak keurus, maklumlah, admin orang sibuk :D
Dan akhirnya admin bangkit lagi nih, wussss... :D untuk mengisi waktu luang mending admin post hal yang bermanfaat, dan berikut ini adalah contoh makalah dari Ayunan Sederhana, kebetulan makalah ini kami dapat dari teman admin, yang cukup baik hati, dialah Adnavasthi (klik aja profilnya) dan buat yang mau download data ini, silahkan menuju ke link yang ada dibawah artikel.
Nih makalahnya ..
BAB I
AYUNAN SEDERHANA
1.1. TUJUAN :Menentukan
gravitasi di SMA Negeri 1 Kartasura
1.2. ALAT DAN BAHAN:
Ø Statip
Ø Benang
Ø Bandul
Ø Mistar
Ø Stopwatch
Ø Gunting
Ø Busur
Ø Kertas
grafik
1.3. LANDASAN TEORI :
Gerak harmonik sederhana adalah gerak bolak – balik benda melalui
suatu titik keseimbangan tertentu dengan banyaknya getaran benda dalam setiap
sekon selalu konstan. Gerak Harmonik Sederhana dapat dibedakan menjadi 2
bagian, yaitu (1) Gerak Harmonik Sederhana (GHS) Linier, misalnya penghisap
Menentukan percerpatan garavitasi bumi (g) dengan bandul matematis dalam
silinder gas, gerak osilasi air raksa/ air dalam pipa U, gerak horizontal /
vertikal dari pegas, dan sebagainya; (2) Gerak Harmonik Sederhana (GHS)
Angular, misalnya gerak bandul/ bandul fisis, osilasi ayunan torsi, dan
sebagainya.
Ada beberapa
contoh gerak harmonik sederhana, diantaranya:
1. Gerak
harmonik pada bandul. Ketika beban digantungkan pada ayunan dan tidak diberikan
gaya, maka benda akan dian di titik keseimbangan B. Jika beban ditarik ke titik
A dan dilepaskan, maka beban akan bergerak ke B, C, lalu kembali lagi ke A.
Gerakan beban akan terjadi berulang secara periodik, dengan kata lain beban
pada ayunan di atas melakukan gerak harmonik sederhana.
2. Gerak
harmonik pada pegas. Ketika sebuah benda dihubungkan ke ujung sebuah pegas,
maka pegas akan meregang (bertambah panjang) sejauh y. Pegas akan mencapai
titik kesetimbangan jika tidak diberikan gaya luar (ditarik atau digoyang).
Syarat sebuah benda melakukan Gerak
Harmonik Sederhana adalah apabila gaya pemulih sebanding dengan simpangannya.
Apabila gaya pemulih sebanding dengan simpangan x atau sudut 0 maka pendulum melakukan Gerak Harmonik
Sederhana.
Gaya pemulih pada sebuah ayunan
menyebabkannya selalu bergerak menuju titik setimbangnya. Periode ayunan tidak
berhubungan dengan dengan amplitudo, akan tetapi ditentukan oleh parameter
internal yang berkait dengan gaya pemulih pada ayunan tersebut.
Periode adalah selang waktu yang
diperlukan oleh suatu benda untuk melakukan satu getaran lengkap. Getaran
adalah gerakan bolak-balik yang ada di sekitar titik keseimbangan di mana kuat
lemahnya dipengaruhi besar kecilnya energi yang diberikan. Satu getaran
frekuensi adalah satu kali gerak bolak-balik penuh. Satu getaran lengkap adalah
gerakan dari a-b-c-b-a.
Periode ayunan
Bandul adalah:
L = Panjang
Tali
g = Percepatan
Gravitasi
Untuk
menentukan g kita turunkan dari rumus di samping:
T² = 4Ï€² (L/g)
g
= 4Ï€² (L/T²)
g
= 4Ï€² tan α ; tan α = Δ L / T²
Periode juga dapat dicari
dengan 1 dibagi dengan frekuensi. Frekuensi adalah benyaknya getaran yang terjadi
dalam kurun waktu satu detik. Rumus frekuensi adalah jumlah getaran dibagi
jumlah detik waktu. Frekuensi memiliki satuan hertz / Hz.
1.4. LANGKAH KERJA :
2. Ikatkan
seutas tali pada statip dan ujung bawah tali di beri bandul
3. Ukur
panjang tali
4. Beban
ditarik ke kiri, tall membentuk sudut Ï´ dengan garis vertical yang kecil ( Ï´ ≤
15° )
5. Lepaskan
beban sehingga melakukan ayunan
6. Ukur
waktu dengan stopwatch untuk 10 ayunan dan catat hasilnya
7. Ulang
kegiatan dengan panjang tali yang berbeda-beda
1.5. DATA PENGAMATAN:
No.
|
Panjang
tali = l (cm)
|
Waktu
= t
(10
x ayunan )
|
Waktu
= T
(
1 x ayunan )
|
Waktu
Kuadrat
(
T2 )
|
| 1. |
10
|
6,98
|
0,7
|
0,49
|
| 2. |
15
|
8,4
|
0,84
|
0,71
|
| 3. |
20
|
9,48
|
0,95
|
0,90
|
| 4. |
25
|
10,52
|
1,05
|
1,10
|
5.
|
30
|
11,36
|
1,13
|
1,28
|
BAB II
GETARAN PEGAS
2.1. TUJUAN :Menentukan
gravitasi di SMA Negeri 1 Kartasura
2.2. ALAT DAN BAHAN:
Ø
Pegas
Ø
Statip
Ø
Stopwatch
Ø
5 buah beban gantung
dengan massa berbeda
Ø
Mistar ( 1m )
Ø
Kertas grafik
2.3.LANDASAN TEORI :
Jika sebuah pegas ditarik dengan gaya tertentu, maka
panjangnya akan berubah. Semakin besar gaya tarik yang bekerja, semakin besar
pertambahan panjang pegas tersebut. Ketika gaya tarik dihilangkan, pegas akan
kembali ke keadaan semula. Jika beberapa pegas ditarik dengan gaya yang sama,
pertambahan panjang setiap pegas akan berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh
karakteristik setiap pegas. Karateristik suatu pegas dinyatakan dengan
konstanta pegas (k).
Hukum Hook menyatakan bahwa jika pada sebuah pegas bekerja sebuah gaya, maka pegas tersebut akan bertambah panjang sebanding dengan besar gaya yang bekerja padanya. Secara matematis, hubungan antara besar gaya yang bekerja dengan pertambahan panjang pegas dapat dituliskan sebagai berikut:
Hukum Hook menyatakan bahwa jika pada sebuah pegas bekerja sebuah gaya, maka pegas tersebut akan bertambah panjang sebanding dengan besar gaya yang bekerja padanya. Secara matematis, hubungan antara besar gaya yang bekerja dengan pertambahan panjang pegas dapat dituliskan sebagai berikut:
F = k x
Keterangan :
F = gaya yang bekerja (N)
k = konstanta pegas (N/m)
x = perubahan panjang pegas
Pegas ada yang disusun secara
tunggal, ada juga yang disusun seri atau paralel. Untuk pegas yang disusun
seri, pertambahan panjang total sama dengan jumlah masing-masing pertambahan
panjang pegas . Sehingga pertambahan total x adalah: x = x1 +
x2.
Sedangkan untuk pegas yang disusun paralel, pertambahan
panjang masing-masing pegas sama. Yaitu: x1 = x2 = x3.
dengan demikian: Kp = k1 + k2
Perlu selalu
di ingat bahwa hukum Hook hanya berlaku untuk daerah elastik, tidak
berlaku untuk daerah plastik maupun benda-benda plastik. Menurut
Hooke, regangan sebanding dengan tegangannya, dimana yang dimaksud dengan
regangan adalah persentase perubahan dimensi. Tegangan adalah gaya yang
menegangkan per satuan luas penampang yang dikenainya.
Sebelum diregangkan dengan gaya F, energi potensial sebuah pegas adalah nol, setelah diregangkan energi potensialnya berubah menjadi: E = kx2
Sebelum diregangkan dengan gaya F, energi potensial sebuah pegas adalah nol, setelah diregangkan energi potensialnya berubah menjadi: E = kx2
Jika sebuah
benda diberikan gaya maka hukum Hooke hanya berlaku sepanjang daerah elastis
sampai pada titik yang menunjukkan batas hukum Hooke. Jika benda diberikan gaya
hingga melewati batas hukum Hooke dan mencapai batas elastisitas, maka panjang
benda akan kembali seperti semula. Jika gaya yang diberikan tidak melewati
batas elastisitas. Tapi hukum Hooke tidak berlaku pada daerah antara batas
hukum Hooke dan batas elastisitas. Jika benda diberikan gaya yang sangat besar
hingga melewati batas elastisitas, maka benda tersebut akan memasuki daerah
plastis dan ketika gaya dihilangkan, panjang benda tidak akan kembali seperti
semula, benda tersebut akan berubah bentuk secara tetap. Jika pertambahan
panjang benda mencapai titik patah, maka benda tersebut akan patah.
Berdasarkan
persamaan hukum Hooke di atas, pertambahan panjang (L) suatu benda bergantung
pada besarnya gaya yang diberikan (F) dan materi penyusun dan dimensi benda
(dinyatakan dalam konstanta k). Benda yang dibentuk oleh materi yang berbeda
akan memiliki pertambahan panjang yang berbeda walaupun diberikan gaya yang
sama, misalnya tulang dan besi.
Demikian juga, walaupun sebuah benda terbuat dari materi yang sama (misalnya besi), tetapi memiliki panjang dan luas penampang yang berbeda maka benda tersebut akan mengalami pertambahan panjang yang berbeda sekalipun diberikan gaya yang sama. Jika kita membandingkan batang yang terbuat dari materi yang sama tetapi memiliki panjang dan luas penampang yang berbeda, ketika diberikan gaya yang sama, besar pertambahan panjang sebanding dengan panjang benda mula-mula dan berbanding terbalik dengan luas penampang. Makin panjang suatu benda, makin besar pertambahan panjangnya, sebaliknya semakin tebal benda, semakin kecil pertambahan panjangnya.
Demikian juga, walaupun sebuah benda terbuat dari materi yang sama (misalnya besi), tetapi memiliki panjang dan luas penampang yang berbeda maka benda tersebut akan mengalami pertambahan panjang yang berbeda sekalipun diberikan gaya yang sama. Jika kita membandingkan batang yang terbuat dari materi yang sama tetapi memiliki panjang dan luas penampang yang berbeda, ketika diberikan gaya yang sama, besar pertambahan panjang sebanding dengan panjang benda mula-mula dan berbanding terbalik dengan luas penampang. Makin panjang suatu benda, makin besar pertambahan panjangnya, sebaliknya semakin tebal benda, semakin kecil pertambahan panjangnya.
2.4. LANGKAH KERJA :
1. Gantungkan
beban 100 gram ( sesuaikan dengan kondisi pegas ) pada bagian bawah pegas
2. Tarik
beban ke bawah, lalu lepaskan
3. Ukur
waktu untuk 10 getaran penuh dengan stopwatch
4. Dengan
pegas tetap ulangi percobaan dengan beban 150 gram, 200 gram, 250 gram
5. Dengan
cara yang sama pegas diganti Pentil
2.5. DATA PENGAMATAN
1)
TABEL
yang menggunakan PEGAS :
No.
|
Beban
(gram)
|
Waktu
10 ayunan
(s)
|
Waktu
T
(s)
|
T2
(
s2 )
|
1.
|
100
|
3,19
|
0,319
|
0,101761
|
| 2. |
150
|
3,96
|
0,396
|
0,156816
|
3.
|
200
|
4,65
|
0,465
|
0,216225
|
4.
|
250
|
4,84
|
0,484
|
0,234256
|
2)
TABEL
yang menggunakan PENTIL :
No.
|
Beban
(gram)
|
Waktu
10 ayunan
(s)
|
Waktu
T
(s)
|
T2
(
s2 )
|
1.
|
100
|
3,99
|
0,399
|
0,159201
|
| 2. |
150
|
4,8
|
0,48
|
0,2304
|
3.
|
200
|
5,94
|
0,594
|
0,303601
|
f. Pada
tabel tetap ulangi percobaan tersebut dengan beban 150 gr, 200 gr, 250 gr
dan catatlah hasilnya dalam tabel 2,
kemudian lengkapi
pada kolom terakhir di atas !
Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan Sopan, jangan menyinggung tentang Suku, Agama, Ras, Antar Golongan (SARA). Terimakasih