Hacker Indonesia Menyerang Situs Intelijen Australia
Mengapa militer kita perlu
selalu membandingkan kekuatan dan kemampuannya dengan negara tetangga?
Jawabannya, gesekan terbatas biasanya terjadi dengan negara tetangga.
Indonesia tahun 1962 pernah konflik dengan Malaysia yang dibantu Australia dalam
pertempuran darat di hutan Kalimantan. Indonesia memperkuat kekuatan militer
dengan mempertimbangkan standarisasi alutsista dari Australia,
Singapura, Malaysia, agar tercipta balance of power. Demikian juga
sebaliknya. Dengan kekuatan militer yang memadai, maka Indonesia tidak akan
diremehkan, karena memiliki bargaining power and position.
Nah, kini terjadi gesekan antara
Indonesia dengan Australia di bidang intelijen. ASD (Australian Signals
Directorate) diberitakan oleh media Australia (Sydney Morning Herald) melakukan
penyadapan di Indonesia atas perintah NSA melalui kantor kedubes Australia di
Jakarta. Perdana Menteri (Pemerintah Australia) sebagai end user intelijen
(bisa disimpulkan) adalah pemberi perintah kepada ASD, karena prinsip intelijen
itu single client . Pemerintah Indonesia, juga beberapa pemimpin di
Asia Tenggara termasuk China melancarkan protes keras dan meminta penjelasan.
Tetapi hingga kini para pejabat Australia, dan bahkan Perdana Menteri Tonny
Abott menolak menjelaskan kegiatan intelijennya di luar negeri, hanya
menyimpulkan langkah intelijennya masih dalam koridor hukum.
Menanggapi protes keberatan dari
pemerintah Indonesia melalui Menlu Marty Natalegawa, ternyata kedua negara
tersebut memberikan jawaban standar formalitas bela diri. ”Baik AS maupun
Australia tidak dapat mengonfirmasi ataupun menyangkal,” ungkap Marty di Gedung
Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Senin (4/11/2013). Marty menambahkan,
jawaban yang diberikan oleh Pemerintah AS terhadap Pemerintah Indonesia
merupakan jawaban umum yang tidak hanya diterima oleh Indonesia, tetapi juga
negara lain yang telah menjadi korban penyadapan AS. “Untuk pemerintah AS,
mereka mengaku masih dalam tahap mengevaluasi kebijakan mereka,” ungkap Marty.
Sementara pemerintah Australia menyatakan tidak akan menjelaskan kegiatan
intelijennya di luar negeri
Dalam kondisi rasa tidak puas
pemerintah dan rakyat Indonesia, maka beberapa kelompok hackerIndonesia
secara individu dan kelompok melakukan serangan bergelombang terhadap
situs-situs di Australia tanpa pandang bulu. Mereka meninggalkan pesan hanya
akan berhenti menyerang apabila pemerintah Australia memberi penjelasan perihal
penyadapan yang mereka lakukan.
Yang mengejutkan, Wakil
Ketua DPR Priyo Budi Santoso tak menyalahkan aksi ini dan bahkan mendukung. ”Kalau
kita dilakukan seperti ini (disadap), kalau perlu kita menghimpun 1000 hacker,”
ujar Priyo di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (8/11/2013). Priyo
menyatakan perang di dunia maya, termasuk aksi retas-meretas, tak terelakkan di
dunia yang kian terkoneksi ini. Para hacker Indonesia tersebut juga beraksi
lantaran Indonesia terlebih dahulu ‘diganggu’ oleh pihak Australia. ”Saya
kira perang cyber tidak terhindarkan. Saya tidak mau menyalahkan mereka (para
hacker Indonesia),” ucap Priyo (Detik).
Dukungan juga datang
dari Staf Khusus Menpora Heru Nugroho agar hacker dari Indonesia
terus membombardir situs Australia dan Amerika Serikat. Heru yang juga
mantan orang nomor satu di Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
(APJII) itu kepada merdeka.com, Sabtu (9/11) mengatakan, “Banci kalau mengaku
hacker Indonesia tapi tak mau menyerang situs Australia dan Amerika Serikat,”
katanya.
Staf Khusus Presiden Bidang Luar
Negeri, Teuku Faizasyah mengaku tak bisa berbuat banyak tentang serangan
hacker Indonesia tersebut. ”Ini mencerminkan masyarakat kita menjadi
bagian kehidupan internasional. Pemerintah tak bisa melarang atau membenarkan,
karena itu reaksi yang bersifat individual. Itu dikembalikan ke individu,” ujar
Teuku usai menghadiri diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (9/11).
Disarankannya apakah tidak lebih baik mereka membantu pemerintah mengamankan
agar tidak mudah disadap.
Sejak awal November 2013, para
hacker yang jumlahnya melebihi 500 orang dari kelompok Anonymous Indonesia
telah meretas sekitar 170 lebih situs-situs acak di Australia. Pada awalnya
mereka menyasar situs ASIO (Australian Security Intelligence Organization),
tetapi kemudian bergeser menyerang situs milik ASIS (Australian Secret
Intelligence Service’s).
ASIO dengan alamat situs (www.asio.gov.au) adalah
organisasi keamanan Australia yang bertanggung jawab melindungi negara
dan warga negara Australia dari tindakan spionase, sabotase,
tindakan campur tangan asing , kekerasan bermotif politik , serangan terhadap
sistem pertahanan Australia , dan terorisme. ASIO dapat dikatakan
sebanding dengan badan intelijen Security Service Inggris (MI5) alam
tugasnya lebih bertanggung jawab kepada keamanan dalam negeri.
ASIO bertanggung jawab kepada
parlemen Australia melalui Jaksa Agung. Organisasi ini juga melaporkan kepada
Komite Parlemen Bersama bidang Intelijen dan Keamanan. Kepala ASIO adalah
Direktur Jenderal Keamanan, yang mengawasi manajemen strategis ASIO dalam
pedoman yang dikeluarkan oleh Jaksa Agung. Pada 2013, ASIO memiliki staf
sekitar 1.740 personil. Identitas petugas ASIO , terlepas dari Direktur
Jenderal , tetap menjadi rahasia resmi. Situs ASIO sempat terganggu beberapa
waktu lalu karena serangan hacker, tetapi kemudian kembali membaik dan kini
dapat kembali di akses.
Sementara situs ASIS kemudian
yang dihantam secara bertubi-tubi oleh para Anonymous Indonesia. ASIS adalah
badan intelijen pemerintah Australia yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan
data intelijen asing, melakukan kegiatan kontra intelijen dan kerjasama dengan
badan-badan intelijen lainnya di luar negeri. ASIS setara dengan Organisasi
Rahasia Intelijen Kerajaan Inggris ( MI6 ) atau Central Intelligence Agency, Amerika
Serikat ( CIA ). Menurut website-nya , misi ASIS adalah untuk melindungi dan
memromosikan kepentingan vital Australia melalui penyediaan layanan intelijen
asing seperti yang diarahkan oleh Pemerintah .
ASIS merupakan bagian dari
Departemen Luar Negeri dan Perdagangan dan portofolio ditempatkan di kantor
pusat DFAT di Canberra. Operasi ASIS terutama pulbaket luar negeri. Kini
situs ASIS (www.asis.gov.au)
sudah tidak bisa dibuka. Dan jika kita melihat status situs ini, dinyatakan
bahwa situs vital keamanan Australia itu 100% down atau mati total (404 not
found).
Selain menyerang situs badan
intelijen ASIS, para Anonymous Indonesia diberitakan juga meretas sekitar 170
situs publik Australia lainnya. Menurut informasi yang beredar di kalangan
hacker, para peretas menyerang kembali Australia secara besar-besaran pada
Jumat malam ke situs-situs pemerintah Australia yang berdomain .gov.au. Para
hacker yakin bahwa banyak pasukan DDOS (denial-of-service) yang siap
membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Karena penyadapan itu
ibarat mencuri,” tegas penggiat komunitas hacker MIrza_stw.
Dilain sisi Anonymous Australia
mengirimkan pesan kepada kelompok peretas Indonesia yang mereka sesalkan karena
menyerang situs UKM publik seperti LSM dan rumah sakit, dan mengatakan akan
membantu hacker Indonesia menyerang pemerintah Australia apabila serangan
terhadap publik terus dihentikan. Mereka menyatakan akan menyerang balik ke
Indonesia apabila serangan ke UKM diteruskan.
AnonymousAustralia mengirimkan
pesan kepada AnonymousIndonesia (Anda telah merusak banyak situs Australia yang
tidak bersalah dalam upaya untuk memprotes pemerintah Australia dan agen
mata-mata mereka, ASIO. Businesses Innocent tidak harus diserang. Kita semua
terikat bersama-sama dalam upaya untuk menurunkan pemerintahan tiran kita untuk
membentuk dunia kita sebagai tempat yang lebih baik. Kami tawaran Anda ,
sebagai sesama saudara untuk fokus pada target utama Anda; pemerintah dan
badan-badan mata-mata dan meninggalkan yang tidak bersalah keluar dari ini.
Jika Anda memilih untuk tidak setuju maka Anda harus merasakan murka penuh
sesama legiun kami . Anonymous Indonesia , Kami adalah Anonymous. Kami
adalah Legion. Kami tidak memaafkan. Kami tidak lupa.”)
Pada hari Sabtu malam
(9/11/2013), kelompok hacker Indonesia dikejutkan dengan down atau disable-nya
situs Bareskrim Mabes Polri di www.bareskrim.polri.go.id,
di tengah upaya mereka membombardir kembali situs intelijen Australia
sampai kondisi 404 Not Found. Seorang hacker dari Indonesian Security Down
Team malah bertanya siapa yang men-deface situs Bareskrim Polri?. Diduga
hacker Australia lah yang membuat disable-nya situs Bareskrim Mabes Polri
tersebut. Diperkirakan ini merupakan serangan balik hacker Australia.
Soal kemungkinan akan berlanjut
dan terjadinya cyber war atau perang cyber antara pihak hacker
Indonesia dan hacker Australia, dikatakannya bahwa mereka siap menghadapi
kemungkinan tersebut. “Kalau cyber war siap karena kami pemuda pemudi Indonesia
tidak takut kpd siapapun kecuali kpd pencipta,” tegas hacker MIrza_stw.
Dari beberapa informasi diatas,
nampaknya cyber war antara hacker Indonesia dengan hacker Australia akan
semakin meruncing dan menjadi lebih serius. Memang semangat bela bangsa dari
para pemuda penggiat dunia maya Indonesia patut diacungi jempol. Mereka
memperingatkan Australia agar jangan main-main dengan Indonesia. Dalam masalah
kemampuan di dunia cyber, para hacker Indonesia sangat terkenal dan
berkemampuan tinggi dikalangan hacker internasional.
Terbukti ASIS sebagai badan
intelijen unggulan Australia situsnya mampu dibuat down 100 persen. Sementara
situs-situs publik lainnya diwilayah bisnis dan badan amal Australia jelas
lebih mudah di retas. Pertanyaannya, apakah serangan ke sasaran diluar situs
.gov.au yang kini terjadi perlu dilakukan terus? Menghukum pemerintah Australia
mungkin dapat diterima dengan menyerang seperti situs ASIS misalnya, ini akan
menunjukkan semangat bela bangsa yang jelas. Anonymous Australia-pun mengatakan
demikian (walaupun belum tentu harus dipercaya). Kalau benar, memang pemerintah
Australia menggunakan badan intelijennya melakukan pencurian data Indonesia
melalui penyadapan. Menurut informasi mantan perwira intelijen Australia,
mereka menyadap bidang politik, diplomasi, ekonomi dan militer Indonesia.
Karena itu sulit melarang agar serangan secara acak untuk tidak diteruskan.
Para pejabat sebaiknya juga tidak
perlu menyampaikan dukungan terbuka serangan peretasan, karena pada dasarnya
serangan hacker adalah tindakan yang tidak disukai warga dunia maya dimanapun.
Serangan hacker daya rusaknya tinggi, jelas merusak, sangat mengganggu dan bisa
berakibat kepada hal yang lebih luas. Target bisa mengalami kerugian yang
sangat besar. Pemerintah Indonesia seharusnya terus mempelajari efek dari
kemungkinan perang cyber.
Biarkan para pemuda pemudi
Indonesia di era demokrasi ini menyampaikan solidaritas berbangsa dan bernegara
secara individu. Tidak perlu diarahkan atau disemangati, di era demokrasi
rakyat mempunyai hak menyampaikan pendapatnya. Kini mulai terjadi serangan ke
Indonesia, situs Bareskrim Polri telah di hack oleh seseorang, mungkin
saja, dan bukan tidak mungkin ini adalah peringatan dan serangan balik
dari hacker Australia.
Kesimpulannya, sebaiknya semuanya
berfikir lebih bijak, memikirkan kemungkinan dampak yang lebih luas dari
potensi cyber war. Pemerintah Indonesia dan Australia sebaiknya kembali duduk
satu meja membicarakan masalah ini. Cyber war apabila diteruskan akan
menimbulkan kerugian yang tidak terkirakan di kedua belah fihak. Kita menunggu
kebesaran hati pejabat Australia, tetapi biasanya dengan nose up, tidak ada
yang mau mengalah. Apabila kondisi dibiarkan, implikasinya akan luas, tidak
hanya menyangkut masalah hubungan diplomatik bilateral saja, bisa meluas ke
bidang lainnya.
Para pejabat di Indonesia
sebaiknya jangan mengompori masalah ini, salah-salah kita akan merasakan
akibat “kompor meleduk.” Tapi ya terserahlah, penulis hanya seorang
Old Soldier, tidak ada beban, kalau negara bilang ikutan yuk perang lagi, walau
sudah di usia senja ya masih berani kok, siapa takut!
sumber dari : http://teknologi.kompasiana.com/internet/2013/11/11/hacker-indonesia-menyerang-situs-intelijen-australia-situs-bareskrim-down-608361.html

Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan Sopan, jangan menyinggung tentang Suku, Agama, Ras, Antar Golongan (SARA). Terimakasih